Langsung ke konten utama

Postingan

Apa yang Kita Sombongkan?

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya." Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor MATERI. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor KECERDASAN. Kita...

Asal Muasal Sewindu Tujuh Hari

Agar kehidupannya menjadi teratur, manusia membutuhkan cara untuk menentukan waktu melakukan tugas atau untuk membedakan musim. Berkat semangat observasi itu, manusia menemukan kalender. Seperti yang kita ketahui, Bulan berputar mengelilingi Bumi kira-kira selama 28 hari. Selama itu pula, Bumi mengalami 4 fase, yaitu bulan baru, bulan sabit, bulan purnama dan bulan sabit lagi. 28 hari dibagi menurut 4 fase ini maka jadilah satu periode yang terdiri dari 7 hari. Kita menyebutnya satu minggu. Orang Babilonia (sekitar 1.000 tahun sebelum Masehi) adalah yang pertama kali menerapkan pembagian tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, orang Hebron menambahkan simbol agama. Mereka mengutip teks Injil yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia selama enam hari dan beristirahat di hari ketujuh. Hari terakhir ini disebut Sabbath dalam tradsi Yahudi. Di Roma, pada kekaisaran Augustus, satu minggu yang kita kenal sekarang benar-benar diterapkan. Setiap hari (atau “dies” dalam b...

Naskah Lorem Ipsum

Naskah Lorem Ipsum standar yang digunakan sejak tahun 1500an "Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat. Duis aute irure dolor in reprehenderit in voluptate velit esse cillum dolore eu fugiat nulla pariatur. Excepteur sint occaecat cupidatat non proident, sunt in culpa qui officia deserunt mollit anim id est laborum." Bagian 1.10.32 dari "de Finibus Bonorum et Malorum", ditulis oleh Cicero pada tahun 45 sebelum masehi "Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque laudantium, totam rem aperiam, eaque ipsa quae ab illo inventore veritatis et quasi architecto beatae vitae dicta sunt explicabo. Nemo enim ipsam voluptatem quia voluptas sit aspernatur aut odit aut fugit, sed quia consequuntur magni dolores eos qui ratione voluptatem ...

Apa Itu Lorem Ipsum

Dalam industri percetakan, Lorem Ipsum dikenal sebagai suatu contoh teks tulisan atau dummy, yang menjelaskan tentang penataan huruf atau typesetting. Sejak tahun 1500-an, Lorem Ipsum sudah dijadikan standar contoh teks. Ini bermula ketika seorang tukang cetak mengambil sebuah kumpulan teks lalu mengacaknya menjadi sebuah buku contoh huruf. Buku contoh huruf itu mampu bertahan selama 5 abad, kemudian beralih tanpa perubahan ke penataan huruf elektronik dan mulai dipopulerkan tahun 1960. Ditandai dengan diluncurkannya lembaran-lembaran Letraset yang menggunakan kalimat-kalimat dari Lorem Ipsum. Selanjutnya, versi Lorem Ipsum digunakan oleh perangkat lunak Desktop Publishing seperti Aldus Pagemaker. Asal muasal Lorem Ipsum Lorem Ipsum mempunyai akar dari sebuah naskah sastra latin klasik era 45 SM dan bukanlah teks yang bisa diacak. Seorang Professor Bahasa Latin dari Hampden-Sidney College di Virginia yang bernama Richard McClintock melakukan penelitian untuk mencari makna salah sat...

[Giroth Wuntu] Tete Koneng Sebagai Anggota Masyarakat

         Pada suatu hari di kampung kami diedarkan undangan bagi seluruh anggota jemaat, untuk menghadiri pertemuan dengan maksud akan membicarakan permasalahan yang menyangkut pemilihan anggota-anggota pimpinan jemaat, bertempat di gedung sekolah Zending. Beberapa anggota telah hadir lalu menggunakan kesempatan itu untuk berbincang-bincang, terutama tentang segala sesuatu yang langsung berhubungan dengan masalah pokok, yakni kehidupan keagamaan atau penginjilan di kampung kami.         Tiada berapa lama tiba pula beberapa anggota, termasuk Tete Koneng. Dan karena tuan penulong sendiri belum hadir, maka kehadiran orang tua yang penuh pertentangan ini, telah menambah ramai pula perbincangan itu.         Tetapi meskipun Tete Koneng dikenal sebagai seorang yang gemar banyak bicara, tetapi janganlah diartikan bahwa dia memang seorang pembicara asal bicara saja dan tidak tahu ujung pangkal cerita atau persoalan yang dik...

[Giroth Wuntu] Tete Koneng di Rumah Duka

Pagi-pagi, baru sekitar pukul enam, Tete Koneng kelihatan sedang sibuk memberi makan ayam-ayam peliaraannya, ketika ia dikejutkan oleh suara isterinya. `“E, Koneng....! Apa kamu tidak perlu bersiap-siap kerumah duka itu? Saya lihat sudah ada orang-orang yang menuju kesana“. „Oh....?! dimana ada kedukaan.....? Siapa yang meninggal? „Ee.....masak kamu tidak tahu Koneng? Apa kamu tidak mendengar tetengkoren tadi malam?“ „Oooh....barangkali karena saya sudah lelap tidur, maklumlah saya sudah sangat lelah pulang dari kebun. Pantas si Epus saya lihat pagi-pagi sekali dia sudah diserambi depan rumahnya dan duduk-duduk di kursi goyang....coba kamu lihat dia.....ha....ha....ha, tetapi siapa yang meninggal itu?!“ „Anaknya si Dina, yang kedua bungsu, saya dengar dari tetangga „Oh....mungkin itu anak perempuan yang baru kelas dua itu, yang minggu lalu pernah disuruh ibunya kemari untuk menanyakan kalau kita menjual telur ayam, kau ingat bukan?!“ „Ya, benar anak itu yang meninggal. T...

[Giroth Wuntu] Tete Koneng Seorang Pejuang

Tete Koneng adalah seorang pejuang teladan. Dan karena pada jamannya Tete Koneng, siapa saja yang berani menentang kekuasaan Belanda langsung dicap Komunis, maka wajarlah kalau orang tua yang galak ini, mendapat julukan „Koneng Merah“, atau Koneng Komunis. Malahan bagi yang kurang mengenalnya ia memang dikira bekas buangan Digul atau Tanah Merah. Padahal Tete Koneng bukanlah seorang komunis penganut paham Marxisme-Leninisme apalagi seorang atheis. Orang tua yang sudah berambut putih ini, hanyalah seorang Nasionalis sejati, yang mendambakan kemerdekaan, bebas dari penjajahan dan karenanya ia sangat mengagumi Bung Karno dan Bung Hatta.....katanya; „Mereka itulah pemimpin-pemimpin bangsa kita yang sejati. Karena selain mereka berotak tajam, dapat melihat jauh kedepan, mereka juga berani masuk bui, dan tidak gentar menghadapi peluru yang setiap saat dapat membunuh mereka. Rupa dorang itu wajar dibilang pemimpin....jago dorang. Orang-orang muda seharusnya rajin membaca buku-buku yang beri...

[Giroth Wuntu] Tete Koneng Sebongkah Batu Gunung

Orang-orang tua memanggilnya ’Koneng‘ saja, sedangkan yang lebih muda menegurnya engan ’Oom‘ atau ‚Broer Koneng‘. Dan kami anak-anak biasa menyebutnya ‚Tete‘ atau ‚Opa Koneng‘ ataupun ‚Opo Koneng‘. Seorang tua yang berwibawa, cerdas, rendah hati dan dapat bergaul dengan siapapun saja. Meskipun ia telah berusia sekitar tujuh puluh tahunan, tetapi dengan perawakannya yang tinggi semampai, berotot, tidak gemuk tetapi bukan pula kerempeng, dengan gerak geriknya yang gagah, roman muka yang tampan, mata yang menyorot tajam, dilengkapi dengan kumis yang dipilin meruncing keatas, salah-salah ia dikira oleh orang-orang muda, sebagai bapak pendiunan  marsose  atau perwira KNIL bagian Komando, yang biasa disebut, pasukan Baret Merah pimpinan Westerling. Konon karena hari kelahiran Tete Koneng, bertepatan dengan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, maka ia lalu seakan-akan memperoleh hak untuk selain nama keluarga Tawaluyan dan nama kecil lainnya, dapat pula ditambahkan sebutan ‚Kon...

Tete Koneng karya Giroth Wuntu

Tete Koneng, seorang yang tampan penuh wibawa, serta anggota masyarakat yang dihormati, yang kukenal sejak masa kanak-kanakku kurang lebih empat puluh tahun yang lampau, dan telah meninggal dunia beberapa tahun sesudah tanah air kita lepas dari penjajahan. Ada beberapa catatan kecil yang ingin kusajikan pada generasi mendatang, tentang gerak langkah dan tingkah laku manusia unik ini, yang sekalipun ia merupakan pokok yang penuh pertentangan bagi sementara orang, namun ia tetaplah bagaikan sebongkah batu gunung, kalau saja ia belum dapat dijuluki bukit batu dan sekalian mercusuar dalam skala kota kami yang kecil Tondano, terutama penonjolannya pada saat sebagian rakyat Minahasa sedang timbul tenggelam dan linglung, diterpa gejolak perjuangan sekitar Proklamasi 1945 karena adanya Twapro dan Hoofden Bond -nya. Berikut empat cerita yang terdapat dalam buku fiksi yang berjudul Tete Koneng: Tete Koneng Sebongkah Batu Gunung Tete Koneng Seorang Pejuang Tete Koneng di rumah duka ...

Manado: Kota Pariwisata atau Kota Sampah?!

Akankah manado di tahun 2010 dapat mencapai cita-cita sebagai kota pariwisata dunia? Adakalanya pertanyaan ini sering menjanggal dalam hati kita sebagai warga kota yang menyaksikan langsung keadaan lingkungan kota manado. Tentu saja yang amat terkait dalam masalah lingkungan kota manado adalah tentunya tentang masalah bersih tidaknya lingkungan kita. Sangat senang dengan berbagai kebijakan pemerintah tentang penanganan lingkungan terlebih khusus yaitu lingkungan kota. Dengan adanya peraturan batas waktu pembuangan sampah, adanya tong-tong sampah yang tersedia di pinggiran jalan walaupun hanya di pinggir jalan raya saja, namun ini lebih baik di banding dengan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi apakah hal ini sudah menjadi salah satu syarat adanya pencegahan lebih lanjut dari kebersihan kota manado? Masalah lingkungan tentunya ada kaitannya dengan masalah sampah karna sampah merupakan salah satu yang dipermasalahkan akhir-akhir ini. Berbagai kegiatan sering di selengg...

SAMPAH DAN DAUR ULANG

Kalau di Indonesia daur ulang baru menjadi trend kira-kira beberapa tahun yang lalu, di Swiss daur ulang sudah menjadi gaya hidup. Sebagai negara kecil yang mempunyai sumber energi dan alam yang terbatas, Swiss berusaha untuk menghemat sumber tersebut. Semua serba dihemat, air, kayu, kertas, kain, botol plastik, kaleng, gelas, sampe sampah biologis. Yang namanya tong sampah di sini macam-macam bentuk dan warnanya. Banyak tong sampah yang dikhususkan untuk satu jenis sampah saja.  Ngomong-ngomong tentang sampah, Swiss bersih banget!! Gimana nggak bersih, tiap 100 meter ada tong sampah. Tiap pagi ada mobil warna orange (di Jenewa, di kota laen mobilnya laen warnanya) yang ngumpulin sampah dari tong-tong sampah di pinggir jalan. Terlebih lagi, beberapa hari sekali, banyak mobil sapu (truk kecil yang ada sapunya buat bersihin jalan atau trotoar) berkeliaran di jalan. Bayangin aja, jalan mobil aja disapu, jadi yang namanya jalan itu jarang banget ada sampah bertebaran. Trotoar ju...