Langsung ke konten utama

Postingan

[Giroth Wuntu] Tete Koneng Sebagai Anggota Masyarakat

         Pada suatu hari di kampung kami diedarkan undangan bagi seluruh anggota jemaat, untuk menghadiri pertemuan dengan maksud akan membicarakan permasalahan yang menyangkut pemilihan anggota-anggota pimpinan jemaat, bertempat di gedung sekolah Zending. Beberapa anggota telah hadir lalu menggunakan kesempatan itu untuk berbincang-bincang, terutama tentang segala sesuatu yang langsung berhubungan dengan masalah pokok, yakni kehidupan keagamaan atau penginjilan di kampung kami.         Tiada berapa lama tiba pula beberapa anggota, termasuk Tete Koneng. Dan karena tuan penulong sendiri belum hadir, maka kehadiran orang tua yang penuh pertentangan ini, telah menambah ramai pula perbincangan itu.         Tetapi meskipun Tete Koneng dikenal sebagai seorang yang gemar banyak bicara, tetapi janganlah diartikan bahwa dia memang seorang pembicara asal bicara saja dan tidak tahu ujung pangkal cerita atau persoalan yang dik...

[Giroth Wuntu] Tete Koneng di Rumah Duka

Pagi-pagi, baru sekitar pukul enam, Tete Koneng kelihatan sedang sibuk memberi makan ayam-ayam peliaraannya, ketika ia dikejutkan oleh suara isterinya. `“E, Koneng....! Apa kamu tidak perlu bersiap-siap kerumah duka itu? Saya lihat sudah ada orang-orang yang menuju kesana“. „Oh....?! dimana ada kedukaan.....? Siapa yang meninggal? „Ee.....masak kamu tidak tahu Koneng? Apa kamu tidak mendengar tetengkoren tadi malam?“ „Oooh....barangkali karena saya sudah lelap tidur, maklumlah saya sudah sangat lelah pulang dari kebun. Pantas si Epus saya lihat pagi-pagi sekali dia sudah diserambi depan rumahnya dan duduk-duduk di kursi goyang....coba kamu lihat dia.....ha....ha....ha, tetapi siapa yang meninggal itu?!“ „Anaknya si Dina, yang kedua bungsu, saya dengar dari tetangga „Oh....mungkin itu anak perempuan yang baru kelas dua itu, yang minggu lalu pernah disuruh ibunya kemari untuk menanyakan kalau kita menjual telur ayam, kau ingat bukan?!“ „Ya, benar anak itu yang meninggal. T...

[Giroth Wuntu] Tete Koneng Seorang Pejuang

Tete Koneng adalah seorang pejuang teladan. Dan karena pada jamannya Tete Koneng, siapa saja yang berani menentang kekuasaan Belanda langsung dicap Komunis, maka wajarlah kalau orang tua yang galak ini, mendapat julukan „Koneng Merah“, atau Koneng Komunis. Malahan bagi yang kurang mengenalnya ia memang dikira bekas buangan Digul atau Tanah Merah. Padahal Tete Koneng bukanlah seorang komunis penganut paham Marxisme-Leninisme apalagi seorang atheis. Orang tua yang sudah berambut putih ini, hanyalah seorang Nasionalis sejati, yang mendambakan kemerdekaan, bebas dari penjajahan dan karenanya ia sangat mengagumi Bung Karno dan Bung Hatta.....katanya; „Mereka itulah pemimpin-pemimpin bangsa kita yang sejati. Karena selain mereka berotak tajam, dapat melihat jauh kedepan, mereka juga berani masuk bui, dan tidak gentar menghadapi peluru yang setiap saat dapat membunuh mereka. Rupa dorang itu wajar dibilang pemimpin....jago dorang. Orang-orang muda seharusnya rajin membaca buku-buku yang beri...

[Giroth Wuntu] Tete Koneng Sebongkah Batu Gunung

Orang-orang tua memanggilnya ’Koneng‘ saja, sedangkan yang lebih muda menegurnya engan ’Oom‘ atau ‚Broer Koneng‘. Dan kami anak-anak biasa menyebutnya ‚Tete‘ atau ‚Opa Koneng‘ ataupun ‚Opo Koneng‘. Seorang tua yang berwibawa, cerdas, rendah hati dan dapat bergaul dengan siapapun saja. Meskipun ia telah berusia sekitar tujuh puluh tahunan, tetapi dengan perawakannya yang tinggi semampai, berotot, tidak gemuk tetapi bukan pula kerempeng, dengan gerak geriknya yang gagah, roman muka yang tampan, mata yang menyorot tajam, dilengkapi dengan kumis yang dipilin meruncing keatas, salah-salah ia dikira oleh orang-orang muda, sebagai bapak pendiunan  marsose  atau perwira KNIL bagian Komando, yang biasa disebut, pasukan Baret Merah pimpinan Westerling. Konon karena hari kelahiran Tete Koneng, bertepatan dengan ulang tahun Ratu Belanda Wilhelmina, maka ia lalu seakan-akan memperoleh hak untuk selain nama keluarga Tawaluyan dan nama kecil lainnya, dapat pula ditambahkan sebutan ‚Kon...

Tete Koneng karya Giroth Wuntu

Tete Koneng, seorang yang tampan penuh wibawa, serta anggota masyarakat yang dihormati, yang kukenal sejak masa kanak-kanakku kurang lebih empat puluh tahun yang lampau, dan telah meninggal dunia beberapa tahun sesudah tanah air kita lepas dari penjajahan. Ada beberapa catatan kecil yang ingin kusajikan pada generasi mendatang, tentang gerak langkah dan tingkah laku manusia unik ini, yang sekalipun ia merupakan pokok yang penuh pertentangan bagi sementara orang, namun ia tetaplah bagaikan sebongkah batu gunung, kalau saja ia belum dapat dijuluki bukit batu dan sekalian mercusuar dalam skala kota kami yang kecil Tondano, terutama penonjolannya pada saat sebagian rakyat Minahasa sedang timbul tenggelam dan linglung, diterpa gejolak perjuangan sekitar Proklamasi 1945 karena adanya Twapro dan Hoofden Bond -nya. Berikut empat cerita yang terdapat dalam buku fiksi yang berjudul Tete Koneng: Tete Koneng Sebongkah Batu Gunung Tete Koneng Seorang Pejuang Tete Koneng di rumah duka ...

Manado: Kota Pariwisata atau Kota Sampah?!

Akankah manado di tahun 2010 dapat mencapai cita-cita sebagai kota pariwisata dunia? Adakalanya pertanyaan ini sering menjanggal dalam hati kita sebagai warga kota yang menyaksikan langsung keadaan lingkungan kota manado. Tentu saja yang amat terkait dalam masalah lingkungan kota manado adalah tentunya tentang masalah bersih tidaknya lingkungan kita. Sangat senang dengan berbagai kebijakan pemerintah tentang penanganan lingkungan terlebih khusus yaitu lingkungan kota. Dengan adanya peraturan batas waktu pembuangan sampah, adanya tong-tong sampah yang tersedia di pinggiran jalan walaupun hanya di pinggir jalan raya saja, namun ini lebih baik di banding dengan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi apakah hal ini sudah menjadi salah satu syarat adanya pencegahan lebih lanjut dari kebersihan kota manado? Masalah lingkungan tentunya ada kaitannya dengan masalah sampah karna sampah merupakan salah satu yang dipermasalahkan akhir-akhir ini. Berbagai kegiatan sering di selengg...

SAMPAH DAN DAUR ULANG

Kalau di Indonesia daur ulang baru menjadi trend kira-kira beberapa tahun yang lalu, di Swiss daur ulang sudah menjadi gaya hidup. Sebagai negara kecil yang mempunyai sumber energi dan alam yang terbatas, Swiss berusaha untuk menghemat sumber tersebut. Semua serba dihemat, air, kayu, kertas, kain, botol plastik, kaleng, gelas, sampe sampah biologis. Yang namanya tong sampah di sini macam-macam bentuk dan warnanya. Banyak tong sampah yang dikhususkan untuk satu jenis sampah saja.  Ngomong-ngomong tentang sampah, Swiss bersih banget!! Gimana nggak bersih, tiap 100 meter ada tong sampah. Tiap pagi ada mobil warna orange (di Jenewa, di kota laen mobilnya laen warnanya) yang ngumpulin sampah dari tong-tong sampah di pinggir jalan. Terlebih lagi, beberapa hari sekali, banyak mobil sapu (truk kecil yang ada sapunya buat bersihin jalan atau trotoar) berkeliaran di jalan. Bayangin aja, jalan mobil aja disapu, jadi yang namanya jalan itu jarang banget ada sampah bertebaran. Trotoar ju...

"Pencagaralaman"

oleh Prof. Dr. Ir. Otto Soemarwoto Pencagaralaman adalah padanan nature conservation . Kata cagar alam telah lama digunakan dan telah menjadi baku. Cagar alam adalah sebidang lahan yang dijaga untuk melindungi fauna dan flora yang ada di dalamnya. Di dalam cagar alam tidak dibolehkan adanya segala jenis eksploitasi. Mencagar ( to conserve ) adalah pengawetan atau pelestarian. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 'cagar' berarti benda yang dipakai sebagai tanggungan pinjaman atau hutang. 'Mencagar' berarti memberikan barang sebagai tanggungan pinjaman. Apabila dihubungkan dengan arti cagar alam sesuai dengan konsep, bumi bukanlah milik kita , melainkan milik anak cucu kita . Kita hanyalah meminjamnya dari anak cucu kita dan harus mengembalikannya kepada mereka dalam keadaan yang baik. Bahkan harus lebih baik dari semula sebagai pembayaran bunganya. Cagar alam itu merupakan tanggungan atau pinjaman, bahwa kita akan mengembalikan pinjaman itu. Sejak manusia ada ...

GAMBARAN MASYARAKAT JERMAN DI JAMAN HITLER (3)

PEMBERSIHAN PERWIRA PASUKAN BADAI (1934) Rakyat Jerman hanya perlu kurang dari 12 minggu dalam kekuasaan Hitler untuk melihat apa jadinya status Yahudi di negara Nazi yang baru ini. Pada tanggal 1 April 1933, partai memboikot semua toko milik Yahudi selama sehari penuh. Nazi menjadikan golongan Yahudi sebagai kambing hitam atas kekalahan pada PD I dan banyak kegagalan lainnya. Kebayakan rakyat Jerman membiarkan hal tersebut karena menganggapnya sebagai bagian dari revolusi. Pada bulan-bulan awal kekuasaan Nazi, orang-orang Yahudi Jerman juga menjadi korban dari serangan dan kekerasan dari Pasukan Badai (SA). Pasukan itu juga mengambil langkah keras lain. Pada tahun 1933, bersama-sama dengan pelajar yang bersimpati, SA melakukan pembakaran massal buku-buku “terlarang”, terutama yang dibuat oleh penulis Yahudi. Lebih jauh lagi, Ernst Julius Rohm, pemimpin tertinggi Pasukan Badai, juga menuntut agar pasukannya dimasukkan ke dalam pasukan militer Jerman reguler. Militer menolak keras i...